
almarhamahindonesia.com - Tekanan darah tinggi tidak selalu menimbulkan keluhan, tetapi dampaknya dapat mengancam organ vital jika dibiarkan. Hal inilah yang menjadi perhatian dalam Pertemuan Ke-7 Sekolah Lansia NURANI S1 yang berlangsung pada Kamis, 22 Oktober 2026, di SMK Kesehatan Kaltara. Bersama Ns. Debby Sinthya, S.Kep., Kepala Jurusan Keperawatan SMK Kesehatan Kaltara, para lansia binaan Yayasan Almarhamah mempelajari hipertensi, risiko yang ditimbulkannya, serta langkah-langkah untuk mengendalikan tekanan darah.
Dalam pemaparannya, Ns. Debby Sinthya mengangkat tema “Kenali, Kendalikan Hipertensi” dengan penjelasan yang berfokus pada pemahaman dasar hingga penerapan pola hidup sehat. Salah satu hal penting yang dibahas adalah hipertensi yang kerap disebut silent killer karena dapat terjadi tanpa gejala yang jelas. Seseorang bisa merasa sehat meskipun tekanan darahnya tinggi, sehingga pemeriksaan secara berkala menjadi langkah penting untuk mengetahui kondisi sebenarnya.
Ns. Debby Sinthya
Materi juga menjelaskan mengapa lansia lebih rentan mengalami tekanan darah tinggi. Seiring bertambahnya usia, elastisitas pembuluh darah dapat menurun, kemampuan ginjal membuang natrium melambat, dan mekanisme tubuh dalam menyesuaikan tekanan darah mengalami perubahan. Jika tidak dikendalikan, hipertensi dapat meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, gagal jantung, hingga kerusakan ginjal.
Memasuki pembahasan pencegahan, para lansia diperkenalkan dengan prinsip PATUH sebagai panduan menjaga kesehatan sehari-hari. Prinsip ini mencakup pemeriksaan kesehatan secara rutin, mengatasi penyakit dengan pengobatan yang tepat dan teratur, menerapkan diet seimbang rendah garam, mengupayakan aktivitas fisik yang aman dan terukur, serta menghindari rokok, minuman beralkohol, dan stres.
prinsip PATUH sebagai panduan menjaga kesehatan sehari-hari
Pengaturan konsumsi garam menjadi salah satu poin penting dalam materi. Presentasi menjelaskan bahwa konsumsi garam perlu dibatasi, dengan anjuran umum maksimal lima gram atau sekitar satu sendok teh per hari. Bagi penderita hipertensi, pembatasan natrium dapat perlu lebih ketat sesuai kondisi dan arahan tenaga kesehatan. Pilihan makanan seperti sayuran, ikan segar, serta penggunaan bawang dan rempah sebagai penguat rasa juga diperkenalkan sebagai bagian dari pola makan yang lebih sehat.
Sesi tanya jawab turut memberi ruang bagi para lansia untuk menyampaikan pertanyaan mengenai materi yang telah dipaparkan. Pertanyaan yang muncul dijawab oleh narasumber dengan penjelasan yang terperinci, tetapi tetap menggunakan bahasa sederhana agar mudah dipahami. Melalui sesi ini, peserta memperoleh kesempatan untuk memperjelas informasi dan memahami penerapan materi dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran tersebut menegaskan bahwa mengendalikan hipertensi tidak cukup hanya dengan menunggu munculnya keluhan. Pemeriksaan berkala, kepatuhan menjalani pengobatan sesuai arahan dokter, pengaturan pola makan, serta aktivitas fisik yang sesuai kondisi merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan dalam jangka panjang.
Melalui Sekolah Lansia NURANI, Yayasan Almarhamah terus menghadirkan ruang belajar yang mendukung lansia agar lebih memahami kesehatan dan mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam keseharian. Almarhamah juga mengajak tenaga kesehatan, institusi pendidikan, komunitas, dan berbagai lembaga untuk berkolaborasi menghadirkan edukasi serta pendampingan yang bermanfaat bagi masyarakat. Mari bersama Almarhamah memperluas kepedulian dan membangun kebiasaan hidup sehat agar lansia dapat menjalani masa tua dengan lebih aktif, mandiri, dan berkualitas.














