
Jum'at (09/01/2026) – Judul Khutbah: Meraih Keberkahan Hidup dengan Prinsip DUIT Tema: Motivasi Islami & Pengembangan Diri
Khutbah Pertama
Mukadimah
الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالدُّعَاءِ وَالسَّعْيِ وَالتَّوَكُّلِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan ini, Islam mengajarkan kita satu prinsip penting agar hidup kita terarah dan penuh keberkahan. Prinsip tersebut bisa kita singkat menjadi DUIT: Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal.
1. Doa (Senjata Orang Beriman)
Huruf pertama adalah D, yaitu Doa. Doa adalah senjata orang beriman (Silahul Mu'min). Dengan berdoa, kita mengakui bahwa diri ini lemah dan Allah Maha Kuasa. Tidak ada satu pun urusan kita yang lepas dari pertolongan Allah.
Karena itu, sebelum memulai sesuatu, biasakanlah untuk berdoa. Mintalah kemudahan, kelancaran, dan keberkahan kepada Allah. Jangan sampai kesombongan membuat kita lupa mengetuk pintu langit.
2. Usaha (Bergerak dan Bekerja)
Huruf kedua adalah U, yaitu Usaha. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk bermalas-malasan. Setelah berdoa, kita harus bergerak. Belajar dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan jujur, dan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab adalah bagian dari usaha. Allah tidak menyukai hamba-Nya yang hanya berharap tanpa mau berbuat.
3. Ikhtiar (Memilih Jalan yang Benar)
Huruf ketiga adalah I, yaitu Ikhtiar. Ikhtiar berarti melakukan usaha dengan cara yang benar dan maksimal. Ikhtiar bukan asal mencoba, tetapi berusaha sebaik mungkin sesuai kemampuan dan aturan yang Allah tetapkan.
Ikhtiar menuntut kita untuk jujur; tidak memilih jalan curang, tidak menipu, dan tidak melanggar syariat demi hasil yang instan. Rezeki yang sedikit tapi halal dan berkah, jauh lebih baik daripada banyak namun penuh dosa.
4. Tawakal (Menyerahkan Hasil kepada Allah)
Huruf keempat adalah T, yaitu Tawakal. Setelah berdoa, berusaha, dan berikhtiar, barulah kita bertawakal. Tawakal artinya menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh keyakinan.
Jika hasilnya sesuai harapan, kita bersyukur. Jika belum sesuai, kita bersabar dan yakin bahwa Allah sedang menyiapkan yang lebih baik.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan bahwa perubahan nasib tidak akan datang tanpa adanya pergerakan dari diri kita sendiri. Allah berfirman dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Innallāha lā yughayyiru mā biqaumin ḥattā yughayyirụ mā bi`anfusihim.
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."
Ayat ini mengajarkan bahwa doa harus dibarengi dengan usaha. Tidak cukup hanya berharap, tetapi harus ada langkah nyata.
Kemudian, setelah semua usaha dilakukan, Allah memerintahkan kita untuk bertawakal sebagai penenang hati. Allah berfirman dalam QS. Ath-Thalaq ayat 3:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Wa man yatawakkal 'alallāhi fa huwa ḥasbuh.
Artinya: "Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya."
Ayat ini adalah jaminan dari Allah. Ketika kita sudah berdoa, berusaha, dan berikhtiar dengan benar, serahkan hasilnya kepada Allah. Allah akan mencukupi kebutuhan kita dengan cara yang tidak disangka-sangka.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Maka jangan pernah lelah berdoa, jangan malas berusaha, jangan menyerah dalam ikhtiar, dan jangan ragu untuk bertawakal. Jadikan prinsip DUIT ini sebagai pegangan hidup, agar langkah kita terarah, hati kita tenang, dan hidup kita penuh keberkahan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mari kita terapkan prinsip DUIT ini dalam kehidupan sehari-hari: dalam belajar, bekerja, berkeluarga, dan beribadah. Ingatlah rumus keseimbangan ini:
Doa tanpa usaha adalah angan-angan.
Usaha tanpa doa adalah kesombongan.
Usaha tanpa tawakal adalah kegelisahan.
Ketahuilah, apa pun hasil yang kita terima hari ini adalah yang terbaik menurut Allah. Tugas kita adalah berusaha sebaik mungkin, sedangkan hasil adalah hak prerogatif Allah.
Marilah kita tutup khutbah ini dengan berdoa kepada Allah SWT.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
Ya Allah, berikanlah kami kekuatan untuk menyeimbangkan doa dan usaha kami. Jadikanlah setiap ikhtiar kami sebagai jalan menuju ridha-Mu, dan jadikanlah hati kami hati yang pandai bertawakal kepada-Mu.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ




