
almarhamahindonesia.com - Upaya membangun daerah yang inklusif tidak cukup hanya berbicara tentang pembangunan fisik. Perlindungan dan pemberdayaan kelompok rentan, khususnya lansia, turut menjadi perhatian dalam diskusi tematik yang berlangsung di Almarhamah pada Senin, 31 Agustus hingga Selasa, 1 September 2026. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi yang telah terjalin sekaligus membahas peluang menghadirkan kebijakan pembangunan yang lebih ramah terhadap kelompok rentan.
Diskusi berlangsung dengan menempatkan lansia sebagai salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian dalam arah pembangunan daerah. Pembahasan tidak hanya melihat lansia dari sisi kebutuhan perlindungan, tetapi juga bagaimana mereka dapat tetap memiliki ruang untuk beraktivitas, belajar, berkontribusi, dan berkembang di tengah masyarakat.
Suasana diskusi
Bagi Almarhamah, keterlibatan dalam pembahasan tersebut sejalan dengan arah program pemberdayaan lansia yang selama ini dikembangkan. Salah satu inovasi yang menjadi bagian dari pembahasan adalah Sekolah Lansia NURANI, sebuah ruang pembelajaran yang dirancang untuk mendorong lansia tetap aktif dan berdaya.
Melalui Sekolah Lansia NURANI, pemberdayaan lansia tidak berhenti pada pemberian bantuan. Lansia mendapatkan ruang untuk mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran, pengembangan diri, kesehatan, keagamaan, hingga aktivitas sosial yang mendorong mereka tetap terhubung dengan lingkungan sekitar.
Perwakilan Almarhamah, Yusuf Surya, menyampaikan bahwa keberadaan Sekolah Lansia NURANI menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana pemberdayaan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Pendekatan tersebut menempatkan lansia bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki potensi dan pengalaman untuk terus dikembangkan.
Kolaborasi menjadi bagian penting dalam upaya tersebut. Diskusi yang digelar di Almarhamah menunjukkan bahwa persoalan lansia membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga sosial, komunitas, dunia pendidikan, hingga masyarakat. Sinergi lintas sektor dinilai dapat membuka lebih banyak ruang bagi lahirnya program yang sesuai dengan kebutuhan kelompok rentan.
Foto bersama
Pertemuan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring kerja yang telah dibangun Almarhamah dengan berbagai pihak. Kolaborasi tidak hanya diarahkan pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga pada pertukaran gagasan dan pengembangan inovasi agar program sosial memiliki dampak yang lebih luas.
Ke depan, Almarhamah terus membuka ruang kerja sama dengan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap isu lansia, pembangunan inklusif, serta pemberdayaan masyarakat. Melalui kolaborasi yang kuat, kepedulian dapat diubah menjadi program yang berkelanjutan dan memberi ruang lebih luas bagi lansia untuk tetap aktif, mandiri, dan berdaya.
Almarhamah mengajak pemerintah, komunitas, kampus, perusahaan, organisasi sosial, dan berbagai elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun kolaborasi kebaikan. Karena ketika banyak pihak bergerak dalam satu arah, pembangunan yang inklusif bukan sekadar gagasan, tetapi dapat diwujudkan melalui langkah nyata.














