
Kamis (09/01/2026) – Pernahkah kita berada di satu fase kehidupan di mana beban terasa begitu berat, hingga hati hampir menyerah? Saat hidup seolah berjalan tidak sesuai rencana. Saat langkah terasa tertatih, dan doa-doa yang kita panjatkan belum juga menemukan jawabannya. Fase itu sering kali datang diam-diam, tanpa aba-aba, namun dampaknya begitu dalam.
Bagi sebagian orang, fase itu hadir ketika merantau sebagai mahasiswa. Jauh dari keluarga, uang tinggal sedikit, kebutuhan terus berdatangan, dan pikiran mulai dipenuhi pertanyaan: apakah aku sanggup melanjutkan semua ini? Di saat yang sama, muncul rasa bersalah karena merasa belum mampu banyak membantu keluarga. Di sisi lain, tenggat pekerjaan atau tanggung jawab datang bertubi-tubi. Bahkan ada masa ketika harus menghadapi orang-orang yang menagih utang, sementara diri sendiri sedang berada di titik paling sempit.
Dalam kondisi seperti itu, hati menjadi lelah. Kita merasa kecil, sendirian, dan seolah tidak diperhatikan. Namun, Islam mengajarkan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, bahkan di saat hamba itu merasa paling sendirian.
Sering kali, pertolongan Allah datang bukan dalam bentuk yang besar dan mencolok, melainkan melalui hal-hal kecil yang penuh makna. Seperti bantuan sederhana dari seseorang yang tidak kita kenal orang asing yang tiba-tiba memberi sebungkus mi instan di akhir bulan, atau sekadar perhatian tulus tanpa banyak kata. Bagi orang lain mungkin biasa, tetapi bagi yang sedang terhimpit, itu adalah anugerah luar biasa.
Di momen itu, hati menjadi luluh. Air mata jatuh bukan karena kesedihan, tetapi karena tersentuh. Kita kembali tersenyum. Kita kembali yakin bahwa Allah sedang bekerja dengan cara-Nya sendiri. Kita belajar bersyukur bukan atas kelimpahan, tetapi atas cukupnya hari ini.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim). Bahkan kesempitan sekalipun, jika dihadapi dengan sabar dan syukur, akan berbuah kebaikan.
Kisah para sahabat Nabi ﷺ juga mengajarkan hal serupa. Kita mengenal Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu seorang pemuda Quraisy yang dulunya hidup bergelimang kemewahan. Namun ketika memilih iman, ia rela kehilangan segalanya. Pakaiannya sederhana, makanannya terbatas, dan hidupnya penuh perjuangan. Tetapi justru dari keterbatasan itulah, Mush’ab menjadi duta dakwah pertama Islam di Madinah. Kesabaran dan ketulusannya mengantarkan cahaya Islam ke banyak hati.
Ada pula kisah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang sering menahan lapar hingga perutnya diikat dengan batu. Dalam kondisi lapar itu, ia tetap duduk di majelis Rasulullah ﷺ demi menuntut ilmu. Dan dari kesabaran itu, Allah memberinya keberkahan ilmu hingga namanya dikenal sebagai perawi hadis terbanyak.
Kisah-kisah ini mengajarkan bahwa proses hidup yang berat bukan tanda Allah menjauh, melainkan sering kali tanda Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih besar.
Perlahan, setelah melewati masa-masa sulit itu, hidup pun kembali tertata. Semangat mulai tumbuh. Prestasi sedikit demi sedikit terlihat. Apresiasi mulai dirasakan. Bukan karena kita tiba-tiba menjadi hebat, tetapi karena kita telah ditempa oleh proses yang panjang dan penuh kesabaran.
Pada akhirnya, kita sampai pada satu kesadaran: perjalanan hidup yang kita syukuri hari ini, dulu pernah kita tangisi. Dan justru dari titik-titik terendah itulah, iman kita dibentuk.
Faktanya, banyak di antara kita yang berbuat baik kepada orang lain bahkan kepada orang asing dengan berbagai alasan. Ada yang karena ibadah, karena ingin mencari ridha Allah. Ada yang karena hobi berbagi. Ada pula yang karena dorongan hati sederhana: ingin membantu saja. Namun dalam Islam, sekecil apa pun kebaikan, tidak pernah sia-sia.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apa pun, walau hanya bertemu saudaramu dengan wajah yang tersenyum.” (HR. Muslim).
Dari sanalah saya akhirnya menyadari satu hal penting: tindakan kecil bisa menjadi jawaban doa besar bagi orang lain. Bisa jadi, sebungkus mi instan, segelas air, atau perhatian singkat yang kita berikan hari ini, menjadi alasan seseorang bertahan dan tidak menyerah pada hidup.
Dan semoga, ketika kita berada di titik paling lemah, Allah menghadirkan pertolongan-Nya melalui tangan-tangan orang baik, sebagaimana kita pun berharap bisa menjadi perantara kebaikan itu bagi orang lain.




