
almarhamahindonesia.com - Senyum, sapaan, dan kenangan menjadi bagian dari pembelajaran Sekolah Lansia NURANI S2 Pertemuan Ke-6 di Almarhamah, Selasa, 6 Oktober 2026. Mengangkat tema “Gangguan Psikologis Lansia: Kesepian & Penelantaran”, kegiatan menghadirkan M. Akbar Nugraha, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.J, Dosen Keperawatan FIKES UBT, yang menyampaikan materi dengan pendekatan ringan dan mudah dipahami para peserta.
Sejak sesi materi dimulai, para peserta Sekolah Lansia NURANI terlihat antusias mengikuti pembahasan. Materi tidak disampaikan dalam suasana yang kaku, melainkan dikemas melalui aktivitas sederhana yang dekat dengan keseharian lansia.
Salah satu materi yang diperkenalkan adalah relaksasi napas dalam. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang mengajak peserta mengenali cara sederhana untuk menciptakan suasana tubuh dan pikiran yang lebih tenang.
M. Akbar Nugraha, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.J, Dosen Keperawatan FIKES UBT
Pembahasan kemudian berlanjut pada konsep “Satu Senyum, Satu Sapaan.” Para lansia diajak melihat bahwa interaksi sederhana dapat memiliki arti dalam kehidupan sehari-hari, terutama melalui kebiasaan saling menyapa dan memberikan respons positif kepada orang lain.
Dalam materi juga disampaikan pesan, “Setiap kata-kata bagus yang diucapkan akan kembali pada otak dan tubuh kita sendiri.” Pesan tersebut menjadi salah satu bagian yang mengajak peserta memperhatikan kata-kata positif dalam interaksi sehari-hari.
Tidak berhenti pada senyum dan sapaan, peserta juga diperkenalkan dengan terapi kenangan indah dan lingkaran syukur. Kedua aktivitas tersebut menjadi bagian dari materi untuk mengajak lansia kembali mengingat pengalaman yang bermakna sekaligus mengenali hal-hal yang dapat disyukuri.
Peserta Sekolah Lansia NURANI S2 menyimak materi yang disampaikan
Pembahasan mengenai senyum, sapa, dan silaturahmi kemudian melengkapi materi. Para peserta diajak melihat pentingnya menjaga hubungan dengan orang-orang di sekitar sebagai bagian dari kehidupan sosial lansia.
Cara penyampaian yang ringan membuat suasana pembelajaran tidak terasa tegang. Beberapa bagian materi bahkan diikuti dengan tawa bersama, sehingga peserta dapat menerima pembahasan mengenai isu psikologis dengan suasana yang lebih cair.
Antusiasme para peserta terlihat sepanjang sesi. Mereka mengikuti materi dengan perhatian sekaligus menikmati aktivitas yang diberikan, menjadikan Pertemuan Ke-6 bukan hanya ruang untuk mendengarkan, tetapi juga ruang untuk berinteraksi dan berefleksi.
Setelah seluruh materi selesai, kegiatan ditutup dengan foto bersama. Momen tersebut menjadi dokumentasi dari pertemuan yang membawa pembahasan tentang kesepian dan penelantaran lansia ke dalam pendekatan yang lebih dekat, sederhana, dan mudah dipahami.
Dari satu napas yang ditenangkan, satu senyum yang diberikan, hingga satu kenangan yang kembali diingat, pembelajaran NURANI menunjukkan bahwa ruang belajar lansia juga dapat menjadi ruang untuk merawat hubungan dan kebahagiaan. Almarhamah terus membuka peluang kolaborasi bersama tenaga kesehatan, kampus, sekolah, komunitas, pemerintah, dan berbagai pihak untuk menghadirkan edukasi yang mendukung kesehatan fisik, psikologis, dan keberdayaan lansia.














